Rabu, 21 Desember 2011

Nilai-nilai musikal dari hasil pengamatan karya musik nusantara

Hal yang mewujudkan kaidah keindahan musikal dalam karya musik, yaitu:
1.       Pengolahan bunyi dan berbagai parameter dasar musik lainnya
2.       Pengolahan waktu dan diam di dalam musik
3.       Aspek harmonisasi
4.       Kedinamisan karya
5.       Aspek instrumental dan struktur komposisi
Untuk memahami unsur-unsur estetis dan etika musik yang terkandung dalam musik tradisi, modern, dan kontemporer, terdapat beberapa model pembelajaran yang bisa dikembangkan, yaitu:
1.       Apresiasi, yaitu mendengarkan atau datang langsung untuk menyaksiskan pergelaran karya-karyanya dan Anda memberikan komentator terhadap karya tersebut
2.       Pengalaman memainkan karya musik oleh Anda sendiri
3.       Pengalaman menciptakan musik berdasarkan pengalaman musikal
Ketiga model tersebut perlu dirancang agar pemanfaatan bunyi sebagai media akan optimal. Berikut ini beberapa contoh musik kontemporer Indonesia.
1.       Tetabuhan Sungut
Karya Tetabuhan Sungut dari Slamet Abdul Syukur merupakan satu karya yang dimainkan oleh sekelompok paduan suara laki-laki dan perempuan. Ide utama karya ini, yaitu mentransfer bunyi-bunyi gamelan, vokal, dan alat perkusi tradisi, seperti suara saron, kendang, dan lain-lain (dung tak gen bern jer, na no ne, e o e, …) melalui vokal manusia. Ibarat bermain gamelan, namun menggunakan mulut. Bunyi-bunyi tersebut dikemas menjadi satu kesatuan bunyi yang otonom. Bukan mengimitasi ssatu gending dan dimainkan oleh suara manusia, namun bunyi-bunyi tersebut disusun kembali hingga menajdi sebuah komposisi mandiri, musiknya terdiri atas beberapa bagian, yaitu satu bagian yang menekankan pada aspek bunyi-bunyi perkusi, saron, dan senggakan.

2.       Jalinan Kita
Karya Jalinan Kita merupakan salah satu karya dari Dody Satya Ekagustdiman yang dimainkan secara quatrophoni. Dalam teknik pementasannya, karya ini dimainkan oleh empat kelompok yang saling berhadapan secara simetris. Setiap kelompok menggunakan instrument kecapi, gelas plasik, suling, dan digunakan vokal. Cara memainkan kecapinya sendiri sangat berbeda dengan cara dalam mengiringi kawih tradisi. Cara memainkannya adalah dengan dipetik, kemudian bagian bawahnya ditekan hingga menghasilkan suara baru, atau keseluruhan kawat dibunyikan secra bersamaan (dari atas ke bawah atau sebaliknya) dengan menggunakan klaber, atau kawat-kawat kecapi itu dipukul dengan pemukul karet.
Bunyi gelas plastik yang dipukulkan satu sama lain dengan sesekali menutup bagian mulut gelasnya bisa menghasilkan perbedaaan bunyi yang diproduksi gelas tersebut. Sementara itu, suling tidak digunakan sebagai alat melodis, namun komponis memanfaatkan bunyi-bunyinya sebagai bunyi perkusi atau ritmis dan berbagai aksentuasi. Alat vokal diproduksi menjadi warna-warna suara yang cenderung aneh, seperti mengaum dan mendesis. Serta teknik komposisinya sendiri menggunakan berbagai perbedaan birama.

3.       Badingkut
Oya Yukarya menciptakan karya Badingkut. Dalam satu bagian tertentu, idenya bertolak dari eksplorasi warna-warna suara vokal manusia, seperti gaya melodi bicara dengan menggunakan suatu kalimat yang bunyi huruf vokalnya diganti dengan hanya menggunakan vokal yang sama a, i, u, e, atau o. kesan lucu dan akrab terasa pada bagian ini sehingga terkadang penonton mampu larut dalam karyanya. Tentu saja kekayaan karyanya terletak pada kemampuan menyusun bunyi-bunyi yang satu sama lain tidak selalu sama dengan menggunakan berbagai teknik komposisi yang khas.

4.       OAEO
Komposisi yang dicipta oleh Wayan Sadra yang berjudul O A E O ini terdapat kesan menarik karena dengan menggunakan vocal ini saja mampu menjadi satu karya baru. Dia memadukan vocal tersebut dengan beberapa alat perkusi dan menggunakan berbagai rangkaian melodi sebagai bahan musical tradisi dengan teknik pengulangan dan berbagai variasi di setiap bagiannya.  Warna suara vocal laki-laki dan perempuan menjadi satu kesatuan warna yang khas apalagi dalam karya ini terdapat solois-solois, namun tidak dominan.

Sumber : Seni Budaya ; Grafindo Media Pratama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar