Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2011

Drama ; Aku Anak Siapa

PAGI HARI.
DALAM SEBUAH RUMAH. PAK YUDHI DUDUK MEMBACA KORAN PAGI. BU ANA KELUAR DARI KAMAR MENUJU DAPUR.
Pak Yudhi        : “Ada berita apa ya pagi ini.”

HEADLINE SURAT KABAR YANG SANGAT MENGEJUTKAN. BERISI TENTANG JATUHNYA PESAWAT YANG AKAN MENUJU JEPANG. YANG MANA PESAWAT TERSEBUT ADALAH PESAWAT YANG DITUMPANGI OLEH SAHABAT BU ANA BESERTA SUAMINYA.
Pak Yudhi        : “Ana, cepat kesini.”
Bu Ana             : “Ada apa, Pah?”
Pak Yudhi        : “Lihat berita ini. (menunjuk ke headline surat kabar tersebut) Apa sama kode pesawat ini dengan kode pesawat yang ditumpangi oleh Rossa dan suaminya?”
Bu Ana             : “Sebentar aku lihat dulu kode pesawatnya.” (mencocokan dengan kode  pesawat yang berada dalam catatannya)
Pak Yudhi        : “Bagaimana? Sama tidak?”
Bu Ana             : (terkejut dan hampir menitikan air mata) ”Sama, Pah.”

BU ANA SEMAKIN MENANGIS KETIKA MENDAPAT KABAR BAHWA SAHABATNYA ITU MASUK DALAM DAFTAR KORBAN MENINGGAL.
ENAM BELAS TAHUN KEMUDIAN….
DALAM KAMAR, CLARA SEDANG BERSIAP UNTUK BERANGKAT KULIAH. DARI LANTAI 1 RUMAH MEREKA BU ANA MEMANGGIL CLARA DAN VEY.
Bu Ana             : “Clara, Vey, cepat turun. Nanti sarapan kalian dingin.”
Clara & Vey     : “Iya Ma.”
DI RUANG MAKAN.
Vey                  : “Mau berangkat bersama tidak, Kak?”
Clara               : “Kamu berangkat sendiri saja. Aku tidak mau sampai anak-anak kampus tahu kalau kita itu bersaudara.”
Bu Ana              : “Sayang kamu tidak boleh seperti itu. Vey itu adikmu. Walau umur kalian hanya berbeda beberapa menit saja, dia tetap adikmu.”
Clara               : “Tapi Maa..”
Bu Ana             : “Sudah, kalian cepat berangkat.”
Vey                  : “Ma, Vey berangkat dulu ya.”
Bu Ana             : “Kamu jangan pernah buat kakakmu kesal lagi, Vey.”
Vey                  : ( sedih ) “Baik, Ma.”
Clara               : “Ma, Clara pergi dulu ya.”
Bu Ana             : “Hati-hati ya sayang.”

SETELAH PUTRI DAN VEY BERPAMITAN, MEREKA BERANGKAT BERSAMA MENUJU KAMPUS. DAN HARI INI ADALAH HARI PERTAMA MEREKA MASUK KULIAH. SESAMPAINYA DI KAMPUS.
Clara               : “Sudah kita berpisah disini saja.”
Vey                  : “Tapi kak, aku tidak tahu tempatnya.”
Clara               : “Kamu kan bisa bertanya. Dan satu lagi, jangan pernah panggil aku dengan sebutan kakak selama kita ada di kampus. Paham?”
Vey                  : “Tapi kak..”
Clara               : “Ahh, sudah. Temanku sudah menunggu. Kamu membuang-buang waktu saja.”
Vey                  : “Kak..”
CLARA PUN PERGI MENINGGALKAN VEY SENDIRI.
Vey                  : (monolog) “Aduh, aku harus kemana. Aku tidak tahu sama sekali denah kampus ini.”

SAAT VEY BERJALAN DAH MELIHAT DI SEKELILINGNYA, TIBA-TIBA DIA TERSANDUNG DAN TERJATUH. LALU RAKA YANG BERJALAN TEPAT DIBELAKANGNYA PUN MEMBANTUNYA.
Vey                  : (terjatuh) “Aduh.”
Raka                : (mengulurkan tangannya sambil membantu Vey berdiri) “Kamu tidak apa-apa?”
Vey                  : (menerima uluran tangan Raka) “Oh, tidak apa-apa kok. Terima kasih.”
Raka                : “Iya, sama-sama. Kamu mahasiswi baru ya?”
Vey                  : (malu) “Iya.”
Raka                : “Oh perkenalkan, aku Raka Permana mahasiswa Sosial Politik. Kalau kamu?”
Vey                  : “Aku Veyya Stephanie, aku mahasiswi Sosial Politik juga.”
Raka                : “Wah sama dong. Kebetulan sekali kalau begitu. Bagaimana kalau kita berjalan bersama-sama?”
Vey                  : “Boleh. Kebetulan aku juga tidak tahu tempatnya.”

LALU MEREKA BERDUA BERJALAN MENUJU FAKULTAS MEREKA. DI TENGAH PERJALANAN MEREKA BERTEMU DENGAN CLARA.
Clara               : (memanggil Raka) “Raka!”
Raka                : (menoleh ke belakang) “Clara? (heran). Kok dia ada di kampus ini juga.”
Clara               : (menghampiri Raka dan langsung menggandeng Raka untuk berjalan bersamanya) “Tidak aku sangka, ternyata kamu satu kampus juga sama aku.”
Raka                : (berusaha melepas tangan Clara) “Clara, apa-apaan sih.”
Clara               : “Kamu kok begitu. Sudahlah Raka, ayo cepat kita jalan saja.” (menarik Raka untuk berjalan dengan cepat)
Raka                : (menoleh ke arah Vey) “Vey, aku tunggu disana ya.”
Clara               : (semakin menarik Raka) “Sudah Raka, cepatlah !”
MEREKA BERDUA BERJALAN DAN MENINGGALKAN VEY.
Vey                  : (monolog)(sedih) “Yah, aku sendiri lagi. Tapi aku harus tetap semangat. Hari ini adalah hari pertama aku masuk kuliah. Jadi aku tidak boleh membuat kesan pertama kuliahku itu buruk. Fighting!

SATU HARI PENUH TELAH DIJALANI MEREKA DI KAMPUS.
DI RUMAH. BU ANA SEDANG MENYIAPKAN MAKANAN DAN KEDUA ANAKNYA SEDANG MENONTON TELEVISI.
Vey                  : “Enaknya menonton apa ya?”(sambil memainkan remote tv untuk mencari channel yang bagus)
CLARA DATANG.
Clara               : (merebut remote tv) “Yang bagus itu, menonton film kesukaanku lah.”
Vey                  : “Tapi Kak, Vey mau menonton berita.”
Clara               : “Ah, cerewet kamu. Aku maunya menonton sinetron.”
Vey                  : (merebut remote tv) “Kak, tapi aku maunya menonton berita.”
Clara               : (merebut remote itu kembali) “Sinetron.”
Vey                  : (merebut remote) “Berita, Kak.”
TANPA DISENGAJA, TANGAN CLARA TERLUKA KARENA TERCAKAR OLEH VEY.
Clara               : (memanggil Bu Ana) “Mama !”
Bu Ana             : (bergegas menghampiri) “Ada apa sayang?”
Clara               :(menunjukan tangannya yang terluka) “Lihat ini Ma. Vey sengaja melakukannya. Padahal Clara hanya ingin bergantian menonton tv dengannya.”
Vey                  : “Tidak Ma. Vey tidak sengaja.”
Clara               : “Bohong! Dia sengaja melakukannya, Ma.”
Vey                  : “Benar, Ma. Vey tidak sengaja.”
Bu Ana             : “Cukup! Veyya, mama sudah bilang sama kamu, hargai kakak kamu. Kamu semakin lama semakin tidak bisa diatur. Minta maaf sama kakakmu dan segera masuk ke kamar.”
Vey                  : “Maafin aku, Kak.”
VEY PERGI MENUJU KAMAR DAN MENANGIS.
Clara               : “Terima kasih ya Ma, sudah membelaku.”
Bu Ana             : “Iya, sama-sama sayang. Mama ke dapur dulu ya. Kamu lanjutkan saja menontonnya.”
BU ANA MENUJU DAPUR. PAK YUDHI PULANG.
Pak Yudhi        : “Ma, Aku pulang.”
Bu Ana             : “Aku di dapur, Pah. Sebentar aku sedang membuatkan kopi untukmu.”
MENUJU RUANG KELUARGA
Pak Yudhi        : “Clara, Veyya kemana? Tidak menonton tv bersama-bersama?”
Clara               : “Vey bilang dia sudah mengantuk, Pah. Makanya dia langsung tidur selepas isya tadi.”
Pak Yudhi        : “Tidak biasanya dia tidur jam segini. Apa dia sakit?”
Clara               : “Tidak kok, Pah. Dia sehat-sehat saja.”
BU ANA MENGHAMPIRI MEREKA
Bu Ana             : (membawa secangkir kopi) “Ini Pah kopinya. Aku sudah siapkan air hangat untuk kamu mandi. Mau mandi sekarang atau nanti ?”
Pak Yudhi        : “Sekarang saja. Aku sudah penuh kuman sepertinya.”
Bu Ana             : “Baiklah, kopinya aku simpan di meja makan saja ya, Pah.”
Pak Yudhi        : “Iya.”
PAK YUDHI PERGI MENUJU KAMAR.
Clara               : “Ma, aku tidur ya. Aku sudah mengantuk.”
Bu Ana             : “Ya sudah. Selamat malam sayang.”
Clara               : “Selamat malam juga, Ma.”
CLARA MENUJU KAMARNYA.

SETELAH PAK YUDHI BERISTIRAHAT DAN MANDI SORE, PAK YUDHI MENGAJAK BU ANA UNTUK BERBINCANG-BINCANG.
Pak Yudhi        : “Ma, bisa kita bicara sebentar?”
Bu Ana             : “Ada apa, Pah?”
Pak Yudhi        : “Kapan kita akan memberitahukan hal yang sebenarnya kepada Clara?”
Bu Ana             : “Biarkan saja, Pah. Biarkan saja Clara tidak tahu soal ini.”
Pak Yudhi        : “Ma, anak kita adalah Veyya bukan Clara. Lagipula mereka sudah dewasa. Bukan seorang anak kecil lagi.”
Bu Ana             : “Aku tidak tega melihat Clara sedih.”
Pak Yudhi        : “Lalu kamu tega melihat anak kandungmu sendiri setiap hari menderita? Sampai kapan kamu terus menyayangi Clara tanpa menyayangi Vey.”
Bu Ana             : “Aku tahu, Pah. Aku juga sayang Vey. Tapi Clara itu anaknya Rossa. Aku merasa berhutang budi padanya.”
Pak Yudhi        : “Tapi kau bisa membalasnya dengan cara yang lain. Tidak dengan cara menyisihkan anakmu sendiri.”
Bu Ana             : “Sudahlah, Pah. Aku lelah, sebaiknya kita bicarakan lain kali saja.”
BU ANA PERGI TIDUR.
HARI DEMI HARI BERJALAN BEGITU CEPATNYA. TANPA TERASA DUA TAHUN TELAH BERLALU. SUATU HARI. DI SUDUT KAMPUS. TAMPAK VEY SEORANG DIRI DUDUK DI TAMAN. RAKA MENGHAMPIRI.
Raka                : “Hai, Vey. Kamu sendirian saja?”
Vey                  : “Iya, aku sedang memikirkan sesuatu.”
Raka                : “Apa! Kamu memikirkan aku?”
Vey                  : “Ih siapa juga yang sedang memikirkann kamu. Bikin otak aku penuh saja.”
Raka                : “Aku hanya bercanda cantik. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum saja.”
Vey                  : “Ih kebiasaan buruk kamu tuh. Mengumbar kata-kata manis yang tidak penting buatku.”
Raka                : “Gombal maksud kamu?”
Vey                  : “Ya begitulah.”
Raka                : (tertawa) “Tahu saja kamu jika itu hanya gombal. Kamu mikirin apa sih? Cerita dong sama aku. Mungkin aku bisa mengurangi beban kamu.”
Vey                  : (bersandar di bahu Raka) “Aku bingung, Ka. Sebenarnya aku ini anak mama aku atau bukan ya.”
Raka                : (terkejut) “Hah? Kamu bicara apa sih? Kamu tidak boleh bicara seperti itu. Masa kamu meragukan mama kamu sendiri.”
Vey                  : “Tapi Ka, perlakuan mama ke aku dengan perlakuan mama ke kakakku itu sangat berbeda.”
Raka                : “Mungkin itu hanya perasaanmu saja Vey.”
Vey                  : “Tidak Raka. Segala sesuatu yang kakakku minta akan terpenuhi. Dan hal-hal yang aku perbuat akan salah di mata mama jika kakakku tidak menyukainya.”
Raka                : “Apa kamu sudah mencoba berbicara dengan mama kamu?”
Vey                  : “Sudah Raka. Dia hanya berkata bahwa aku anaknya.”
Raka                : “Lalu apa yang kamu ragukan?”
Vey                  : “Anak kandung atau bukan. Kalau bukan aku anak siapa?”
Raka                : “Sudahlah Vey. Kamu positive thinking saja. Mungkin disaat mama kamu marah, dia sedang lelah atau jenuh.”
Vey                  : “Masa setiap hari sih, Ka.”
Raka                : “Sudah. Kamu bersabar saja ya. Minta petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Pasti kamu tahu mana yang benar dan mana yang salah.”
Vey                  : “Terima kasih ya kamu sudah mau mendengar cerita aku. Terima kasih juga untuk bahumu.”
Raka                : “Iya sama-sama. (bergumam) Andai bahuku bisa terus menjadi sandaranmu.”
Vey                  : “Sandaran apa, Ka?”
Raka                : “Hah? Oh itu, sandaran kaki!”(tampak bingung)
Vey                  : “Sandaran kaki? Bukan itu yang baru saja kamu ucapkan tadi.”
Raka                : “Benar kok, Vey. Sandaran kaki.”
Vey                  : “Kamu bohong.” (menampar Raka)
Raka                : “Aduh, sakit tahu!”
Vey                  : “Maaf, tadi ada nyamuk dipipi kamu.”
Raka                : “Mmm. Bohong ya?
Vey                  : ”Haha.. iya.”
VEY PERGI DAN RAKA MENGEJARNYA.
Raka                : “Veyy, tunggu!”
Vey                  : “Tunggu apa?” (tersenyum)
Raka                : “Tunggu aku memenangkan hatimu. Tapi nanti setelah aku membuang topi toga aku.”
Vey                  : “Mm. Tergantung.”
Raka                : “Kenapa tergantung?”
Vey                  : “Tergantung. Kamu jadi sarjana beneran atau sarjana pengangguran.”(tertawa)
Raka                : “Dasar matre.” (tertawa sambil mengelus kepala Vey)
CLARA DATANG MENGGANGGU MEREKA
Clara               : “Rakaaa… Emang siapa yang matre? Aku kan tidak matre tahu.”
Raka                : “Aduh kamu lagi.”
Clara               : “Temani aku ke toko buku ya?”
Vey                  : “Raka, aku ke..”
Clara               : (menggandeng dan menarik Raka) “Ayo Raka!”
Raka                : “Tunggu! Aku akan ikut denganmu asal Vey juga ikut dengan kita.”
Vey                  : “Tidak . Kalian pergi berdua saja.”
Clara               : “Sudahlah Raka. Jangan paksa dia kalau dia tidak mau.”
Raka                : “Kamu tidak apa-apa pulang sendiri?”
Vey                  : “Tidak apa-apa. Memang aku anak kecil, jika pulang harus diantar. Aku kan sudah dewasa.” (tersenyum)
Clara               : “Raka, tunggu apa lagi?”
Raka                : (berbicara pada vey) “Jam 7 malam di Taman Kota.”
Vey                  : “Iya.”

RAKA DAN CLARA PERGI. VEY SENDIRI TIDAK LANGSUNG PULANG KERUMAH. DIA PERGI KE PERPUSTAKAAN SAMBIL MENUNGGU WAKTU UNTUK BERTEMU DENGAN RAKA DI TAMAN.
DI PERPUSTAKAAN.          
Vey                  : (monolog) “Baca buku apa ya yang bagus? (sambil memilih buku yang berada diatas meja). Mm. buku sastra bagus juga.”

DI TOKO BUKU.
Clara               : “Kamu mau beli buku apa?”
Raka                : (melihat jam tangannya dan terlihat gelisah)(monolog) “Aduh bagaimana ini, sudah jam 6 sore.”
Clara               : “Kamu kenapa sih?”
Raka                : “Hah? Tidak apa-apa kok.”

DI TAMAN KOTA JAM 8 MALAM.
Vey                  : (monolog) “Raka kemana ya? Kok belum datang juga.” (melihat sekitar)

DI RUMAH CLARA.
Clara               : “Terima kasih ya. Kamu sudah mengantar aku pulang.”
Raka                : “Iya. Aku langsung pulang ya. Aku buru-buru.”

BU ANA KELUAR MENEMUI RAKA DAN CLARA.
Bu Ana             : “Ada tamu ternyata. Clara, suruh dia masuk dulu.”
Clara               : (menarik Raka) “Ayo Ka, masuk dulu.”
Bu Ana             : “Iya. Sekalian saja makan malam disini. Hari ini tante masak special loh.”
Raka                : “Tapi tante...”
Clara               : “Tidak baik Raka menolak rejeki.”

BU ANA, CLARA DAN RAKA MASUK KEDALAM RUMAH.
VEYYA MASIH TETAP MENUNGGU DI TAMAN KOTA WALAUPUN HUJAN TURUN DENGAN DERAS.
DI MEJA MAKAN.
Bu Lina                        : “Ayo Raka. Silahkan dicoba masakan tante.”
Raka                : (melihat jam) “Oh, iya tante.”
Clara               : “Enak tidak masakan mama aku? Mama aku itu jago masak.”
Raka                : “Enak kok.”
TIBA-TIBA PAK YUDHI BERTANYA KEPADA RAKA.
Pak Yudhi        : “Kalian satu kampus?”
Raka                : “Iya Om. Satu kampus tapi beda fakultas.”
Pak Yudhi        : “Clara, Vey kemana? Kok tidak makan bersama dengan kita? Apa dia belum pulang?”
Clara               : (bingung) “Belum, Pah.”
Pak Yudhi        : (khawatir) “Kemana dia sampai jam segini belum pulang. Mana diluar hujan deras sekali.”
Raka                : (bingung) “Clara, tadi papah mu bertanya soal Vey. Vey itu siapa?”
Clara               : “Adikku.”
Bu Ana             : “Sudahlah nanti saja kita lanjutkan perbincangan ini.”
Pak Yudhi        : “Kamu tidak khawatir jika terjadi apa-apa dengan Veyya?”
Raka                : (semakin bingung) “Veyya? Veyya Stephanie?”
Pak Yudhi        : “Kamu kenal dengan dia, Raka?”
Raka                : “Iya Om, saya kenal.”
Pak Yudhi        : “Iya. Dia anak om.”
Clara               : (kesal) “Bisa tidak kita fokus sama makan malam kita.”
Raka                : “Clara, Kenapa kamu tidak pernah memberitahu aku bahwa Vey adikmu?”
Clara               : “Kamu juga tidak pernah menanyakan hal itu pada aku.”
Pak Yudhi        : “Bicara yang lebih sopan, Clara!”
Clara               : “Papa itu kenapa sih. Tidak pernah sedikitpun membela Clara.” (meninggalkan meja makan)
Pak Yudhi        : “Clara!”
Bu Ana             : “Sayang, kamu mau kemana!”
Clara               : “Clara mau pergi saja!”
RAKA MENGEJAR CLARA UNTUK MEMINTA PENJELASAN.
Raka                : (menarik tangan Clara) “Jelaskan sama aku. Ada apa dengan ini semua?”
Clara               : “Buat apa? Hal ini tidak penting bagiku. Veyya, Veyya dan Veyya saja yang ada dihidup kalian!”
Bu Ana             : “Sayang, jangan bicara seperti itu. Mama sayang kok sama kamu.”
VEYYA TIBA DIRUMAH DALAM KEADAAN BASAH.
Vey                  : “Ma, Pah. Vey pulang.”
Raka                : “Veyya?”
Vey                  : “Raka? Sedang apa kamu disini?”
Clara               : “Oke. Semua ini sudah jelas bukan Raka?”
Bu Ana             : (marah) “Veyya! Kamu darimana saja? Jam segini baru pulang! Terus kenapa baju kamu basah?
Pak Yudhi        : “Kamu ini ibu macam apa! Anak baru pulang bukannya khawatir malah kamu marahi!”
Veyya              : “Tidak apa-apa, Pah. Ini memang salah, Vey.”
Raka                : “Bukan, Om. Ini salah saya. Saya yang menyuruhnya menunggu di taman.”
Clara               : “Cukup! Clara butuh penjelasan dari mama dan papah. Kenapa yang kalian bela selalu saja Veyya, kenapa tidak pernah kalian sedikit saja membela Clara, apa Clara bukan anak kalian? Lalu Clara ini anak siapa?”
Bu Ana             : “Jangan berbicara seperti itu sayang. Tentu kamu anak mama dan papa, Clara.”
Clara               : “Clara tidak percaya! Kalau memang Clara anak mama dan papa, kenapa papa tidak pernah sedikitpun sayang sama Clara. Kenapa Pah?”
Pak Yudhi        : (emosi) “Karena kamu bukan anak saya!”
Clara, Veyya dan Raka            : (terkejut) “Apa?”
Bu Ana             : “Papa tidak sepantasnya berbicara seperti itu.”
Pak Yudhi        : “Memang itu kenyataannya! Seharusnya kebohongan ini sudah kita bongkar sejak beberapa tahun lalu!”
Vey                  : “Kebohongan apa, Pah?”
Pak Yudhi        : “Kebohongan bahwa kamu dan Clara bukan saudara kandung.”
Bu Ana             : “Papa! Rossa itu sahabatku! Jadi sudah sepantasnya aku menjaga Clara sebagai balas budi!”
Pak Yudhi        : “Balas budi dengan cara mengorbankan anak kandungmu sendiri?”
Clara               : (teriak) “Cukup! Rossa? Balas budi? Sebenarnya apa maksud dari ini semua?”
Vey                  : “Ma, jelaskan ke kita. Sebenarnya apa yang terjadi?”
Bu Ana             : “Maafkan mama sayang. Mama sudah berbohong padamu. Kamu adalah anak sahabat terbaik mama, Clara. Maafkan mama juga Veyya karena mama tidak pernah memperhatikanmu.”
Clara               : “Jadi Clara bukan anak mama?”(terkejut setelah mendengar penjelasan)
Bu Ana             : “Kamu akan tetap jadi anak mama, sayang.”
Pak Yudhi        :  “Delapan belas tahun yang lalu, orangtuamu meninggal pada saat kecelakaan pesawat, Clara.”
Vey                  : “Kakak....”
Clara               : “Lalu, sekarang keluarga Clara berada dimana?”
Pak Yudhi        : “Mereka semua berada di Jepang.”
Clara               : “Tidak mungkin !”
CLARA BERLARI MENUJU KAMAR DAN MENANGIS TERSEDU.
Raka                : “Clara..!”
Pak Yudhi        : “Dia butuh waktu untuk sendiri.”
TIBA-TIBA VEYYA JATUH PINGSAN KARENA KONDISI TUBUHNYA YANG LEMAH DAN BASAH SELEPAS DIRINYA TERKENA HUJAN.
Raka                : “Vey!”
Bu Ana             : “Veyya!”

KEESOKAN HARINYA CLARA MEMUTUSKAN UNTUK KEMBALI TINGGAL BERSAMA KELUARGANYA YANG BERADA DI JEPANG.
DI RUANG KELUARGA RUMAH CLARA.
Clara               : “Ma, Pah.” (membawa tas)
Pak Yudhi        : “Kamu mau kemana?”
Clara               : “Clara mau pergi, Pah.”
Bu Ana             : “Jangan pergi sayang, kita bisa tinggal bersama-sama disini sebagai satu keluarga.”
Pak Yudhi        : “Betul, Clara.”
Clara               : “Ma, Pah. Ini sudah menjadi keputusan Clara. Terima kasih banyak sudah merawat Clara hingga Clara seperti ini. Tapi Clara ingin kembali ke Jepang. Clara ingin bertemu dengan keluarga Clara yang sebenarnya. Clara tidak akan melupakan kalian. Tenang saja, libur panas tahun depan Clara akan mengunjungi kalian.”
Pak Yudhi        : “Kamu tidak berpamitan dulu dengan Veyya dan Raka?”
Bu Ana             : “Iya. Pasti mereka sedih kalau kamu tidak memberitahu mereka.”
Clara               : “Tetapi mereka akan lebih sedih lagi jika mereka mengetahui perpisahan ini. Salam sayang Clara untuk mereka.”
TIBA-TIBA VEYYA TURUN DARI KAMARNYA SAAT IA MENDENGAR CLARA BERPAMITAN.
Vey                  : “Kakak !”
Clara               : “Vey.”
Vey                  : “Kakak mau kemana?”
Clara               : “Kakak mau pulang ke rumah kakak.”
Vey                  : “Rumah kakak kan disini.”
Clara               : “Vey, kakak ingin bertemu dengan keluarga kakak.”
Vey                  : “Tapi kak.”
Bu Ana             : “Sudah Vey. Kakakmu tidak lama kok disana.”
Clara               : “Iya, aku akan kembali saat libur musim panas, Vey.”
Vey                  : (sedih) “Kalau sudah sampai disana hubungi kami ya, Kak.”
Clara               : “Iya sayang. Ma, Pah, Clara berangkat sekarang ya.”
Pak Yudhi        : “Hati-hati ya, Clara.”
Bu Ana             : “Jaga diri kamu baik-baik.”
Clara               : “Baik Ma, Pa. Clara sayang kalian.”
Bu Ana             : “Kami juga sayang sama kamu.”
Vey                  : “Bye Kak.”
CLARA PERGI MENINGGALKAN RUMAH.
Vey                  : “Ma, Pah. Pasti rumah ini akan sepi jika tidak ada Kak Clara.”
Bu Ana             : “Iya sayang.”
WALAUPUN CLARA TIDAK TINGGAL BERSAMA KELUARGA PAK YUDHI, MEREKA AKAN SELALU MERINDUKAN KEHADIRAN CLARA DITENGAH KELUARGA MEREKA.

Selasa, 18 Oktober 2011

Drama ; Surat Kecil Sang Sahabat

Ini barangkali hanya sebuah kisah sederhana tentang seorang gadis yang merasa bahwa dirinya mampu melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain. Sebut saja gadis itu Geisha. Dia adalah gadis yang kuat, cerdas, cukup jutek dan agak sedikit angkuh. Namun satu kelemahannya adalah penyakit Kanker Otak yang telah dideritanya selama dua tahun terakhir ini. Tetapi ia berusaha untuk menutupi semua itu agar tidak ada seorang pun temannya yang tahu tentang kelemahan dirinya. Karena pekerjaan orang tuanya pula, Geisha harus berpindah-pindah sekolah. .
Di Sekolah barunya . . .
Geisha : (Memasuki sekolah) Emm. Ga buruk-buruk banget kok sekolah ini. Lumayan lah dari pada sekolah gue yang dulu.
Dari arah belakang, Yogi si cowok sok cool yang ada disekolah itu berlari dan menabrak geisha.
Geisha : Aduh. . (Geisha terjatuh) Eh, lo kalau jalan pake mata dong !
Yogi     : Eh, dimana-mana jalan pakai kaki kali. Gue ga sengaja (pergi meninggalkan Geisha).
Geisha : Huh. Dasar cowok ga sopan. Udah nabrak gue sampai jatuh, ga minta maaf lagi. Aduh kaki gue sakit banget.
Slamet : (mengulurkan tangannya menolong Geisha) Butuh pertolongan toh mba ?
Geisha : Ga. Gue bisa sendiri (berdiri).
Slamet : Ya sudah saya hanya menawarkan bantuan saja.
Geisha : Makasih atas tawaran lo.
Slamet : Enje. Sami-sami mba. Loh mba ini anak baru yah? Saya belum pernah lihat mba sebelumnya.
Geisha : Iye, gue anak baru disini. Ruang kepala sekolah disebelah mana sih?
Slamet : Oh, gampang. Dari sini mba tinggal lurus saja, lalu belok ke kanan. Nah ruang kepala sekolah ada di pojok lorong itu.
Geisha : Thanks yah.
Slamet : Sami-sami mba.   
Geisha pun langsung bergegas menuju ruang kepala sekolah untuk mengurus kepindahannya itu. Setelah semua selesai, Bu Esti selaku wali kelas Geisha mengantarkan Geisha kekelas barunya.
Bu Esti : Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru pindahan dari Bandung.
Dhitya  : Cowok apa cewek bu?
Indri     : Kalau cowok kenapa? Dan kalau cewek kenapa?
Dhitya  : Yah kalau dia cewek, gue harus siap-siap.
Indry    : Siap-siap ngapain?
Dhitya  : Siap-siap meluluhkan hati dia lah.
Seisi kelas bersorak (uuuu…..).
Bu Esti : Geisha silahkan masuk.
Geisha : (memasuki kelas)
Bu Esti : Silahkan perkenalkan diri kamu.
Geisha : Perkenalkan nama saya Geisha Cindy Aprilia. Saya pindahan dari SMAN 8 Bandung.
Indry    : Hah ? Geisha ? Penyanyi dong. Wah ada artis disekolah kita.
Dhitya  : Artis dari hongkong. Jauh kali itu muka sama si geisha penyanyi. Tapi ga kalah cantik kok sama Geisha penyanyi itu.
Seisi kelas tertawa.
Bu Esti : Sudah. Sudah. Geisha kamu duduk disebelah Putri.
Geisha             : Baik bu (menuju tempat duduknya).
Bu Esti : Baik kita lanjutkan pelajaran kita yang tertunda tentang Respirasi.
Bu Esti melanjutkan pelajaran, sementara itu terdengar suara berbisik dari kursi tempat Geisha,
Putri    : Hai. Aku Putri Shintya Dewi. Salam kenal yah. Semoga kita bisa berteman.
Geisha : Iya.
Dan suara berbisik dari kursi tempat Yogi pun terdengar.
Yogi     : Eh dhit. Itu cewek kan yang gue tabrak tadi pagi.
Dhitya  : Anak baru itu? Loe tabrak dimana?
Yogi     : Pas digerbang sekolah. Ga sengaja tadi gue nabrak dia dan gue gak bilang minta maaf sama dia.
Dhitya  : Wah kacau lo man, lo tolongin dia berdiri kagak?
Yogi     : kagak, bodo ah…
Bu Esti : Dhitya, Yogi, kalau kalian masih ingin mengobrol pada saat jam pelajran saya, silahkan keluar.
Dhitya  & yogi : Maaf bu.
Hari pertama dijalani Geisha tanpa beban. Dan keesokan paginya, dikelas ada Dhitya dan Indry sedang asyik mengobrol dimeja dan kursi tempat Geisha dan Putri duduk.
Putri    : Permisi dong, aku mau duduk dikursi aku.
Indry    : Kayak ada yang ngomong? Lo denger ga dhit?
Dhitya  : Ga tuh. Hantu kali yah. Suara ada wujud tak nampak.
Indry dan Dhitya tertawa, wajah Putri terlihat sedih.
Geisha : (memasuki kelas&menghampiri kursinya) Permisi gue mau duduk.
Indry dan Dhitya masih asyik mengobrol.
Geisha : Gue bilang PER-MI-SI. Gue mau duduk. Ini kursi gue. Kalian bisa kan ngobrol dikursi kalian sendiri?
Indry    : barusan lo ngomong ?
Dhitya  : Eh, Geisha. Silahkan duduk. Aduh maaf yah kursinya kita pakai mengobrol.
Indry    : Lo apa-apaan sih dhit?
Geisha dan Putri duduk dikursinya. Tidak lama kemudian Yogi tiba dikelas dan menghampiri Geisha.
Yogi     : Geisha maaf yah atas yang kemarin. Gue gak sengaja nabrak loe.
Geisha : hmm (sinis)
Indry    : jawabnya biasa aja kali , gak tau siapa kita?
Geisha : ga penting gue kenal kalian.
Yogi     : ya udah si, yang penting gue udah minta maaf sama lo. Cabut yuk guys?
Dhitya  : bye geisha, (tersenyum malu)
Geisha : (melihat sinis).
Karena kesal , Indry langsung keluar kelas. Beberapa menit kemudian, Bel sekolah berbunyi, saatnya siswa SMA Paparazy untuk memulai kegiatan belajar mereka. Pada saat jam istirahat, Slamet dan Putri menghampiri Geisha yang sedang asyik membaca buku.
Slamet : Hai mba Geisha.
Geisha : Bisa gak si lo manggil gue gak pake mba? Cukup nama aja, G E I S H A.
Slamet : Maaf toh mba memang ini sudah menjadi kebiasaan saya.
Putri    : Dia pindahan dari Yogya cha, makanya logat jawanya masih kental. Mmm. Ga apa-apa yah aku panggil kamu icha. Soalnya nama kamu ribet banget sih, kalau manggilnya Geisha atau Isha agak susah.
Geisha : Oh, ga apa-apa.
Slamet : Lagi baca buku apa ? mau ikut kita ke kantin ndak mba?
Geisha : Thanks. Tapi kayaknya ga deh. Kalian saja yang ke kantin.
Putri    : Oh ya udah. Maaf yah kalo kita jadi ganggu kamu.
Geisha : No problem.
Slamet dan Putri pergi ke kantin dan meninggalkan Geisha sendiri. 15 menit telah berlalu. Bel masuk pun telah berbunyi.
Bu Esti : Hari ini kita akan mengevaluasi bab yang kemarin kita pelajari. Ibu akan memberikan beberapa pertanyaan. Bagi yang bisa menjawab, angkat tangan kalian. Pertanyaan pertama. Apa yang dimaksud dengan Pernapasan ?
Geisha : (mengankat tangan)
Bu Esti : Ya, Geisha.
Geisha : Serangkaian aktivitas pengambilan dan pengeluaran udara yang dilakukan oleh alat-alat pernapasan.
Bu Esti : Bagus Geisha. Sekarang pertanyaan kedua, jika tahu jawabannya angkat tangan secepatnya.
Selama evaluasi berlangsung, Geisha lah yang menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh Bu Esti kepada murid-murid XI IPA Unggulan. Anak-anak sekelasnya pun tercengang. Padahal baru kemarin ia masuk ke kelas. Setelah evaluasi selesai, Bu Esti memberikan tugas untuk muridnya
Bu Esti : Tugas dikumpulkan minggu depan, cari artikel mengenai Global Warming, dijilid dan diberi cover. Tugas ini adalah tugas kelompok. Masing-masing kelompok terdiri  dari 4 orang. Tidak boleh lebih. (bel sekolah berbunyi) Baik anak-anak. Sampai ketemu minggu depan. Selamat Siang.
Anak-anak Murid        : Siang bu.
Indry    : Eh ada yang mau sekelompok sama gue ga? Gue kurang 1 personil lagi ini.
Slamet : Geisha, kamu belum dapet kelompok toh? Gabung saja sama mereka.
Dhitya  : Geisha, gabung sama kita saja?
Geisha : gak perlu , Gue bisa ngerjain sendiri.
Indry    : Sombong banget lo ! Ditawarin masuk kelompok gue . Malah nolak. Jarang-jarang ada yang ditawarin secara cuma-cuma.
Geisha : Makasih atas tawaran lo. But I can do it with myself (tersenyum sinis).
Slamet : Walah walah. Bahasane. Bahasa bule.
Geisha pun meninggalkan kelas. Semenjak istirahat, sekilas wajah Geisha tampak pucat, tubuhnya pun terlihat lemas. Sepulang sekolah ia langsung pergi kerumah sakit untuk check up. Dirumah sakit. .
Bu Esti : Geisha, sedang apa kamu disini?
Geisha : Check up bu. Ibu sedang apa? Apa ibu sedang sakit?
Bu Esti : Bukan ibu yang sakit, tetapi anak ibu. Kamu check up ? memang kamu sakit apa?
Geisha : gak bu Cuma check kesehatan aja.
Bu Esti : oh, kalau begitu ibu duluan ya?
Geisha             : oh silahkan bu, hati-hati di jalan (tersenyum).
Bu Esti : iya.
Saat di sekolah. Pada jam istirahat.
Putri    : Kita ke kantin yuk cha.
Geisha : Ayo. (berjalan menuju kantin bersama Putri)
Slamet : eh. .Mba-mba ini mau kemana toh ?
Putri    : Haduh Slamet, kita mau ke kantin.
Slamet : Boleh toh mba saya ikut?
Geisha : Heeemm.
Mereka bertiga menuju kantin. Sesampainya dikantin mereka mencari tempat duduk untuk menunggu pesanan makanan mereka. Dhitya yang semula duduk bersama Indry dan yogi, mengangkat mangkuk makanannya dan pindah ke tempat Geisha.
Dhitya  : Boleh gak aku duduk disini?
Slamet : Oalah tentu boleh toh mas.
Dhitya pun duduk dan bergabung bersama Slamet, Putri dan Geisha. Sedangkan Indry dan yogi yang ditinggal oleh Dhitya, merasa kesal karena semenjak hadirnya Geisha ditengah-tengah mereka, dhitya jadi berubah. Sepulang sekolah. . .
Putri    : Kamu kenapa cha? Kamu sakit ya?
Geisha : Ga apa-apa kok. Im fine.
Putri    : Bener ga apa-apa ? kamu pulang bareng siapa?
Geisha : Bener kok gue ga apa-apa. Gue pulang sendiri. Memang kenapa?
Putri    : Pulang bareng aku saja. Rumah kita kan searah.
Geisha : Thanks. Tapi gue bisa pulang sendiri.
Putri    : Aku takut kamu kenapa-kenapa dijalan.
Geisha : Gue bilang gue bisa pulang sendiri Put.
Geisha memegang kepalanya yang terasa sakit dan pandangannya pun samar. Dan datanglah Yogi menghampiri Putri dan Geisha.
Yogi     : Put, mading yang kemarin dikasih anak-anak disimpen sama lo kan?
Putri    : Iya sama aku yog. . (berbicara menatap geisha) Cha udah kamu pulang sama aku aja yah. Jangan dipaksain.
Yogi     : Kenapa lo?
Geisha : (berbicara menatap Yogi) Bukan urusan lo. (berbicara menatap putri)  Thanks put. Tapi gue mau pulang sendiri. (meninggalkan Putri dan Yogi)
Yogi     : Jutek banget sih.
Tidak jauh Geisha melangkah, tiba-tiba ia jatuh pingsan. Dari hidungnya keluar darah.
Yogi     : Geisha ! (berlari menghampiri Geisha).
Putri    : Ayo Gii. Cepat kita bawa ke UKS.
Yogi     : Eh Slamet, Dhitya. Bantuin  dong.
Dhitya dan Slamet membantu membawa Geisha ke UKS.
Yogi, Dhitya dan Slamet menunggu di luar UKS, karena Geisha sedang diperiksa .
Dhitya  : semoga geisha gak kenapa-kenapa..
Yogi     : lebay lo. Biasa aja kali..
Didalam UKS. .
Putri    : Kamu sakit apa si cha? Cerita dong sama aku.
Geisha             : (hanya terdiam)
Putri    : Cha. Cerita dong sama aku, kamu kenapa?
Geisha : Gue ga apa-apa kok.
Setelah setengah jam menunggu. . Putri dan Geisha keluar dari UKS.
Dhitya  : Gimana keadaan kamu ?
Geisha : Ga apa-apa.
Dhitya  : Bener ga apa-apa? aku anter pulang ya?
Geisha : Ga usah. Makasih. Gue dijemput sama kakak gue.
Slamet : Ehemm . . prikitiww.
Geisha : Gue duluan yah semua. Thanks.
Dhitya  : Hati-hati yah. Jaga kesehatan kamu.
Putri & Slamet            : Cieeeeee…
Dhitya  : Cie gue Ciee gue….
Putri & Slamet            : tertawa
Beberapa bulan telah dilalui Geisha disekolah itu. Tidak ada perubahan yang nampak pada diri Geisha. Geisha tetap saja masih menjadi seorang yang keras kepala, yang mengerjakan semua tugas-tugasnya dengan sendiri. Dhitya mulai sering mencari perhatian Geisha, dan hasilnya pun selalu nihil. Putri dan Slamet makin dekat dengan Geisha. Sedangkan Indry, seakan tidak ingin melihat Geisha berada disekolah itu. Penyakit Geisha sudah masuk Stadium akhir. Dan sampai saat ini, teman-teman nya tidak ada yang mengetahui tentang penyakit itu. Suatu hari di Taman sekolah Geisha sedang asyik duduk sambil membaca novel dan Yogi menghampiri.
Yogi     : Ehem. Boleh gue duduk disini?
Geisha : Ya.
Yogi     : (menarik nafas) Huh. Baca buku apa?
Geisha : (menunjukan sampul bukunya)
Yogi     : Gue boleh nanya gak sama lo?
Geisha : Apa?
Yogi     : Kenapa sih lo berusaha untuk lakukan semua tugas lo sendirian tanpa minta bantuan orang lain?
Geisha : Ya, selama gue bisa lakukan itu semua sendirian, kenapa harus minta bantuan orang lain?
Yogi     : Ya, manusia kan makhluk sosial, masa sih ga butuh orang lain. Lo kan punya banyak temen.
Geisha : Ada yang lain yang mau lo tanyain? Kalau ga. Gue pergi.
Yogi     : Kenapa sih susah banget buat lihat lo tersenyum? Dan kayaknya juga lo ga memperluas jaringan temen lo.
Geisha : Suka-suka gue.
Yogi     : Tapi akan lebih baik kalau lo tersenyum.
Geisha : What for? Ga penting juga kali buat lo.
Yogi     : Kenapa sih lo jutek banget sama orang lain apa lagi sam gue? Apa karena gue pernah nabrak lo dan gue gak minta maaf? Ok, sekali lagi gue minta maaf sama lo..
Geisha : gak juga , Lo mau tau kenapa? Pertama, karena lo menyebalkan. Dan yang kedua, karena gue udah ga tau lagi cara untuk tersenyum. Paham?
Yogi     : Ya tapi kenapa sampai lo menghilangkan senyum lo dari hidup lo?
Geisha : Gue ga akan bisa tersenyum kalau selama hidup gue, gue terus ketemu sama lo.
Yogi     : segitu bencinya kah lo sama gue?
Geisha : udah lah gak penting..
Seketika Geisha pun pergi meninggalkan Yogi sendiri. Yogi masih diselimuti kebingungan tentang ucapan Geisha. Dikamar mandi sekolah. .
Tiba-tiba saat geisha sedang berjalan, indry menghampirinya.
Indry    : Heh, Geisha. Gue pengen ngomong sama lo.
Geisha : Ngomong tinggal ngomong kok repot.
Indry    : (mendorong Geisha ke tembok dan kepala Geisha pun terbentur) Eh, asal lo tahu ya semenjak lo hadir disekolah ini, temen deket gue lebih memilih untuk mencari perhatian lo dari pada have fun bareng gue lagi. Lo ga usah ke PD-an deh, karena temen-temen gue deket sama lo.
Geisha hanya bisa terdiam menahan sakit.
Indry    : Ingat ucapan gue ! (meninggalkan Geisha)
Setelah peristiwa itu, Geisha tidak masuk sekolah selama 5 hari berturut-turut. Teman-temannya bingung mengenai kabar keadaan Geisha yang tidak kunjung terdengar ditelinga mereka.
Di depan kelas. .
Slamet : Arep nengendi Put?
Putri    : Mau ke Ibu Esti. Mau nanya kabar Icha.
Slamet : Ikut yah.
Putri    : Ayo. !
Slamet dan Putri pergi menuju ruang guru dan menghampiri Bu Esti.
Putri    : Permisi Bu.
Bu Esti : Ada apa Put ?
Slamet : Kita mau nanya keadaan Geisha bu.
Putri    : Iya bu. Dia sakit apa bu?
Bu Esti : ibu juga kurang tau, memang waktu itu ibu bertemu dengan dia di rumah sakit, tapi saat ibu Tanya dia sedang apa di sana, dia hanya berkata check kesehatan itu saja,
Putri    : oh, kalau begitu nanti pulang sekolah saya dan teman-teman akan menjenguknya.
Bu Esti : ya sudah titip salam ya , untuk dia dari ibu?
Putri    : baik bu, kalau begitu kami permisi.
Saat pulang sekolah, Dhitya, Slamet, Yogi, Indry dan Putri pergi kerumah Geisha untuk menjenguknya. Halaman rumahnya tampak megah dan rumahnya cukup mewah. Setelah dipersilahkan masuk oleh Ibunda Geisha, mereka duduk dan berbincang dengan ibunda Geisha. Dan kemudian mereka menuju kamar Geisha. Geisha terlihat kurus dan lemah. Dia hanya dapat terbaring tak berdaya.
Putri    : Hai Cha.
Geisha : Ngapain pada kesini?
Slamet : Aduh mba. Lah wong mba sakit ya kita jenguk.
Yogi     : Gimana keadaan lo?
Geisha : Iya begini keadaan gue. Bisa liat sendiri kan.
Indry    : Sha, maafin atas sikap gue waktu itu yah. Gue ga tau kalau akhirnya jadi kayak begini.
Geisha : Its oke. Gue juga ga peduli kok dan gue udah lupain itu.
Yogi     : cha, sebenernya lo sakit apa?
Geisha : (hanya diam & membuang muka)
Putri    : cerita dong sama kita.. siapa tau kita bisa bantu,
Geisha : (berbicara keras sambil menangis) asal lo semua tau ya, gue punya penyakit kanker otak dan lo  semua gak akan ada yang bisa bantu gue, untuk menyembuhkan penyakit gue ini.
Yogi     : memang kita gak bisa bantu menyembuhkan penyakit lo , setidaknya lo masih bisa berusaha untuk berobat ke luar negeri.. siapa tau setelah lo berobat di sana lo bisa sembuh..
Geisha : kalo gue sembuh. Kalo gak?
Putri    : lo jangan pesimis gitu dong cha.
Slamet : Betul. Betul. Betul. Mau toh mba berobat? Iya. Iya. Iya?
Dhitya  : Ayo dong Geisha, demi orang tua kamu dan kita semua.
Geisha pun setuju
Mereka semua tersenyum. Dan akhirnya, Geisha pun setuju untuk berobat keluar negeri. Keesokan harinya, sepulang sekolah, sahabat-sahabat Geisha mengantarkan Geisha ke Bandara. Mereka pun berdoa untuk kesembuhan Geisha. Satu bulan telah berlalu, terdengar kabar Geisha telah kembali dari pengobatannya. Semua sahabat-sahabat Geisha senang mendengar hal itu, mereka bergegas menemui Geisha dirumahnya. Dengan pengobatan itu, Geisha dapat bertahan hidup namun hanya 1 tahun. Kenangan selama satu tahun bersama Geisha sangat berkesan untuk Dhitya, Indry, Putri, Slamet dan Yogi. Tiba hari pemakaman Geisha. Sahabat-sahabat Geisha tidak percaya Geisha pergi meninggalkan mereka begitu cepatnya. Bu Esti yang ada di pemakaman itu memberikan sepucuk surat terakhir dari Geisha.
Indry    : Gue baca yah !
Ketika kalian membaca surat ini, bisa dipastikan saat itu aku sudah tidak ada lagi didunia ini. Kalian pasti heran mengapa aku menulis surat ini untuk kalian yang kenyataannya aku sendiri juga tidak tahu. Aku hanya ingin memberi tahu betapa aku sangat berterima kasih. Selama ini aku mencari-cari keajaiban yang bisa memberiku alasan untuk hidup. Ketika bertemu dengan kalian,aku disadarkan bahwa sebenarnya aku tak perlu mencarinya. Ternyata keajaiban itu sedang kualami, kurasakan dan kujalani. Dan hidup adalah keajaiban itu sendiri. Aku sangat berterima kasih karena itu. Jangan membenciku. Waktu terus berjalan, aku sudah tiada dan kalian masih hidup. Tak perlu terikat masa lalu. Sungguh tidak apa-apa bagiku kalau kelak kalian melupakan aku. Biar aku saja yang mengingat kalian. Itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Yogi     : Gue ga akan lupain lo cha. Seandainya saat ini lo denger, gue itu sayang sama lo. Andai lo tau itu cha.
Dhitya  : Sabar yah kawan. Kita harus kuat seperti saat icha masih hidup. Dia selalu tegar menghadapi semua.
Mereka semua berangkulan dengan bercucuran air mata. Bagi mereka Geisha akan selalu hidup dalam hati mereka untuk selama-lamanya.

_ Sekian _